Senin, 29 Oktober 2012

* Tembang Kertas *


* SEMOGA *

saat 1000 kali senja muncul di hadapan bola mata kita,
bahkan saat cahaya sudah
kabur di ujung penglihatanku
bersama perubahan warna
rambutmu rambutku, aku ingin dihatiku - hatimu masih dengan getar rasa yang sama,
seperti hari kemarin dulu,kemarin ,dan hari ini...

* NANTI *
Nanti,
Ketika, mata ini tak sempurna lagi membaca,
ketika, bibir tak lagi lincah mengurai kata
ketika jemari tak mampu lagi mencairkan tinta di ujung pena
ketika, ingatan ini tak lagi mengenalmu.. biar ku raba
Letak hati ini, ada nama, ada cinta, ada setia di ujung angka sembilanpuluhlima

Nanti, sampai nanti, lihat saja nanti
Atas izin-NYA mari kita nanti..

Jumat, 12 Oktober 2012

“Bu Broto,, Losmen Bu Broto” by. Linda Djalil

Brotoseno, dan…
Angelina Sondakh
Posted by Linda Djalil on
December 29, 2011


Siapa ‘orang-orang jadul’ yang
tak kenal Bu Broto si jangkung
bersanggul berkebaya Jawa
rapi langsing cantik yang
sehari-hari mengelola losmen?
Ya, Losmen Bu Broto adalah
cerita serial di TVRI tahun ’80
an yang setiap Rabu malam
jam 9.30 dinanti-nanti pemirsa.
Petani-petani di desa pun tak
kalah sibuk bila Losmen Bu
Broto sudah akan muncul di
televisi. Mereka berkumpul di
halaman rumah lurah, dengan
bekal teh kopi dan ubi rebus,
bersama-sama menikmati
hiburan dari layar kaca ini.
Bu Broto (baca: Mieke Wijaya)
ditampilkan sebagai
perempuan bijak. Suaminya,
Pak Broto (diperankan oleh
Mang Udel yang kini sudah
almarhum), adalah pensiunan
pengangguran yang semula
menderita post power
syndrome dan kerjanya hanya
ngopi sembari memetik alat
musik ukelelenya saja. Bu
Broto yang penyabar dan
tukang dandan itu sangat
cerdik menyikapi suasana hati
sang suami. Ia juga pandai
mengendalikan anak-anaknya,
si Tarjo (Mathias Muchus
masih muda banget lho waktu
itu..hihihihi..!), Dewi Yul yang
menjadi jeng Sri si janda
muda, dan mbak Pur si
perawan tua yang diperankan
oleh Ida Leman. Pokoknya,
semua kompak bekerja
mengelola losmen yang
adanya (seolah-olah) di
Jogjakarta itu. Para pemain
masih muda, segar, ganteng,
cantik. Dan kehebatan
berakting mereka serta
tampilan keren raut wajah
sampai hari ini masih bersisa
deh!
Karena pemirsa TVRI begitu
terpesona pada kisah Losmen
Bu Broto ini, maka banyak
orang yang kebetulan sedang
ke Jogja begitu ngotot
mencari, mengudak-udak
letak Losmen Bu Broto di
sebelah mana. Hahahaaaa…..,
lha losmennya direkayasa di
studio TVRI kok, jeh!
Di balik semua itu, saya ingat
betul, banyak suami yang
‘menyentil’ para ibu, eh.. istri
mereka, “Tuuuh lihat dong Bu
Broto, penyabar, ulet, jujur,
cantik wajah cantik hatinya.
Tirulah..” . Memang,
tampaknya Tatik Malyati si
penulis cerita serial ini
sengaja menyuguhkan sosok
istri yang bijak, tabah, dan
terukur dalam tutur katanya.
Terus terang saja, saya rindu
pada suguhan cerita Bu Broto
yang dulu itu. Apa masih bisa
disiarkan ulang ya?
Lalu, tiba-tiba di twitter,
facebook, SMS, yang zaman
munculnya Bu Broto yang
bijak belum terbayang ada
benda-benda dan alat
komunikasi itu, ramai sekali
orang menyebut, “Mau ada Bu
Broto ya sekarang?” Lha?
semula saya berpikir apa
maksudnya? Seiring dengan
komentar yang berlapis-lapis
dan seru itu, barulah saya
mudeng, ternyata ini menjurus
pada kisah asmara yang betul-
betul gress dan aktual ;
Angelina Sondakh yang
menjalin cinta dengan
Brotoseno sang polisi!
Brotoseno, yang semula hanya
diraba publik lewat topinya
yang menutupi jidat dan mata
itu, akhirnya muncul
gamblang dengan senyum
mengembang. Waduh, keren
euuuy..! Jadi bintang pilem
mungkin layak juga lho…
hehehe! Konon kabarnya dia
adalah seorang duda dari
seorang dokter cantik lulusan
Universitas Indonesia. Kalau
melihat Brotoseno bersanding
dengan janda Adjie Massaid
yang wafat belum setahun itu,
ya cocok laa, yang satu keren
satu lagi cuantik. Taelaaaah…!
Toh perempuan anggota
Komisi X DPR itu jelas-jelas
berkata (kata dia, itu menurut
bapaknya, Luki Sondakh
mantan Rektor Universitas
Sam Ratulangi), urusan
keyakinan dan asrama .. eh
asmara, adalah urusan privasi.
Oke, ok, setujuuuu…! Ape lu
kate, kalau kata orang
Betawi. Semua memang sah-
sah saja. Urusan etiket
memang sangat subyektif,
namun urusan etika adalah
ikhtiar menuju hal obyektif
karena menyangkut pedoman
hidup. Akhirnya tokh semua
tergantung dari kacamata
mana memandangnya.
Namun saya hanya ingin
membuka buku saya dari
halaman pertama, dan ada
sedikit catatan di sana.
Angelina Sondakh menangis
jejeritan tiada henti saat Adjie
terbujur kaku di kamar mayat
di RS Fatmawati. Setelah SBY
dan Ani SBY pulang melayat di
rumahnya, semenit kemudian
Angie jatuh pingsan.
(waktunya kebetulan ya?
bukan saat SBY datang).
Begitu seorang kerabat yang
dokter mengatakan bila
lemah dan pingsan ia dilarang
ikut ke makam, mendadak
sontak dia siuman dan
menjerit, bahkan ingin masuk
ke ambulans. Ok,
kemauannya diikuti oleh
anggota keluarga. Oya,
sebelum itu, di samping saya,
dia masih sempat mengadu
kepada ibu Presiden tentang
buruknya penanganan RS
Fatmawati. Lalu, ia histeris di
gedung DPR. Ibu bapaknya
datang dari Menado tergopoh-
gopoh menuju gedung DPR.
Angie juga minta masuk ke
lubang kubur. Dia berkata
tidak akan menikah lagi,
karena satu-satunya lelaki
hanya Adjie. Menurut
pengakuannya, Adjie sebelum
wafat masih sempat berkata
‘Take care of our children’ .
Benar tidaknya, saya tidak
bisa meraba dengan pasti.
Lalu ia membuat buku,
mengarang lagu, tampil
belasan kali di semua
impotemen eh infotainment,
sampai-sampai anak-anak
petani di salah satu desa
berkata kepada saya, ‘drama
itu bu…, itu hanya drama!’ dan
tukang foto copy sembari
membolak-balik kertas
menyimak gosip layar kaca,
dan berkomentar, ”Aaaah,
lebay amaaat, besok juga
udah punya pacar baru, kawin
lagi..!” — Tentu kesal sekali
saya mendengar berbagai
komentar dari beberapa
lapisan masyarakat itu.
Telinga saya terasa mau
pecah. Ingin rasanya saya
memeluk Adjie dengan
segera. Dan menjerit
menangis sejadi-jadinya.
Saya pernah mencoba
menasihatinya berkali-kali.
Meratap berkelebihan dalam
agama juga tidak patut.
Muncul di infotainment,
bahkan sampai mau-maunya
dipanggil sana-sini ke studio
TV sembari mengumbar air
mata, rasanya tak perlu.
Mengadakan acara tahlilan
diikuti dengan peluncuran
lagu baru di mata saya
alangkah tidak etisnya.
Sebagai orang yang duduk di
Komisi X, berkonsentrasilah
ke bidang yang ditanganinya,
masalah kesehatan,
pariwisata, pendidikan dan
olah raga. Bukan
membeberkan tentang
keguguran setelah Adjie wafat
(hah? keguguran?). tentang
kamar anak yang warna-
warni, rencana sekolahkan
anak ke luar negeri, dan
keharmonisannya dengan
almarhum sepanjang usia
pernikahan dan berbagai kisah
internal lainnya. Dia pernah
berkata kepada saya bahwa
urusan diwawancara
infotainement dan tabloid
selesai sudah, yang penting
sekarang saya mau
konsentrasi kerja. Eh,
besoknya, dan besoknya lagi,
ternyata ada lagi dia, bahkan
wartawan syuting di kamar
anak, mengikutinya di mal dan
lagi-lagi datang ke studio.
Tentu saya bingung. Yang
mana yang bisa dipegang dari
tutur katanya?
Saya juga menyampaikan apa
kata teman-teman saya yang
doktor, yang dokter, yang
pengacara, bahkan anak-anak
petani desa dan tukang foto
copy yang melemparkan kritik
atas lebay nya, untuk tidak
mengumbar tangis di depan
kamera lagi. Angelina
Sondakh seakan tidak perduli.
Bahkan dia menjawab,
“Kakak, buktinya yang SMS
aku, di twitter , semua memuji
aku, tidak ada yang bilang
seperti yang kakak bilang…!”
Saya terperangah.
MasyaAllah…! Lalu saya
katakan, ibarat parfum,
minyak wangi, bila dicium dari
kejauhan memang
menyenangkan, enak,
nyaman, tapi jangan ditelan
airnya karena mengandung
racun. Bisa celaka kita. Itulah
puja pujian dari orang. Hirup
saja dari kejauhan jangan
masuk ke hati terdalam. Nanti
bisa gede kepala dan takabur.
Merendahlah Angie…,
merendahlah…!
Hanya sebegitu yang bisa saya
lakukan. Ya sutralaaaah…! Dia
sudah dewasa, pintar, sekolah
tinggi, punya kedudukan
tinggi. Apalah artinya saya?
Cuma mantan wartawan, yang
kini tidak berkantor, yang
sejauh ini tidak ingin pula
masuk dalam jajaran partai
apapun.
Kembali saya teringat Bu
Broto yang anggun, matang,
dan penuh tantangan hidup.
Adakah tokoh itu sekarang
dalam situasi Indonesia yang
curat marut saat ini? Tentu
ada! Masih banyak perempuan
Indonesia yang ‘berkelas’,
dalam arti kata bukan hebat
secara finansial, namun hebat
memoles halus budinya. Saya
sendiri masih jauh sekali dari
hal serupa itu, dan belajar
terus dari ketololan diri
sendiri, maupun kenistaan
perilaku orang lain.
Brotoseno, adalah pria muda
yang cakep, karir masih
benderang di depan mata.
Sah-sah saja bila benar apa
yang dia katakan kepada
wartawan, “Saya mencintai
Angelina Sondakh apa
adanya”….. hhhhmm..
syukurlah. Semoga juga bisa
konsekwen dengan kata-
katanya. Toh pak polisi
ganteng ini sudah dipindahkan
lapaknya dari instansi yang
sedang ia jalankan, yang
menurut atasannya karena
urusan Angelina Sondakh.
Benarkah begitu? Saran saya
hanya satu, jangan tanya
kepada wartawan, sanak
keluarga, teman-teman, tapi
tanyalah kepada Tuhan….
sudah benarkah pilihannya?
Andai ternyata Brotoseno
akhirnya berjodoh dengan
Angelina Sondakh, saya
ucapkan dari awal, ‘Selamat
ya!’ — Dan jadilah Angie
menjelma menjadi Bu Broto
deh….., yang InsyaAllah
sosoknya memang dikagumi
seluruh rakyat Indonesia
karena penghalusan budinya
yang sedemikian tinggi…., dan
bisa dipegang teguh seluruh
ucapan yang bernada sejuta
janji.

Senin, 08 Oktober 2012

“A S A”

Senyap...
Bara asa seakan lenyap
Apakah asa itu bersayap
apakah asa itu berkaki lalu merayap

Bersayap lalu terbang tinggi
Berkaki merayap hilang untuk pergi..
Hatiku, dalam senyap menuai pedih,
Asa yang membara kian redup lalu mati
Nurani, dipeluk hampa diarungi sepi, aku kah zombie ?

Asa, bangunlah engkau lepaskan lara
kokohkan serpihan harap yang porak poranda
Berdirilah, ujung tombak jauh dihati dekat didada
Raga boleh rapuh, jiwa harus tetap utuh.. Asa..

*Pelampung mana pelampung :D

Selasa, 02 Oktober 2012

“Sekeping hati di Kota Solo”

Ku tatap jingga dilangit senja Surakarta
Ku bawa kembali sekeping hati yang dulu lara
Tentangmu, tentang cinta yang tak pernah kau baca

Ku pikul sebahu lukisan wajahmu nan ayu
Dulu ku gambar dg gejolak rasa yg beku dan bisu
Ku penuhi panggilan rindu kian memuncak setinggi bukit merbabu
kini ku kembali di kota ini menyapamu

Lihatlah, aku kembali, aku belum mati
Karnamu, karna Solo, karna sekeping hatiku yg tertinggal disini aku kembali

Aku tak utuh,
hatiku tinggal disini separuh
Hanya raga yang mampu menjauh
Sekeping hati ini menanti tak pernah rapuh

Lihatlah, aku datang kembali,
Di kota Solo, di kota ini sekeping hatiku tinggal dan mati..






Minggu, 30 September 2012

“Surat Kosong dari Karyo”


Selamat Pagi,
Kembali ku sapa Kotak Pos
yang terlihat berisi
Ada kertas putih terbungkus
persegi
Kembali ku buka untuk yang
ke tujuh Kali

Masih sama, sama kosong
seperti yang dulu hari
Tak ada kata, ataupun kalimat terbaca
kertas putih terlipat
membentuk satu garis tak
berwarna
hanya ada sebuah nama Karyo dan Kota Jogja

Kenapa kosong.. ?
Nyaris tak terdengar meski
hati dengan keras bertanya
Rasa kecewa mengendap
membentuk lara
Surat kosong mengisi hati
dengan berjuta tanya

Kenapa kosong..
Jika hatimu tentang aku
kenapa tak ada salam rindu
sebagai pembuka suratmu
Jika cinta tentang sejuta kata
kenapa tinta tak tergores
untuk ku baca

kenapa kosong..
Ku lipat kembali dalam lipatan yang tak rapi
surat kosong mengundang
tanya merajut sepi
sepi hati menanti kembali surat yang lagi kosong..

Rabu, 01 Agustus 2012

“Tak Perlu Judul”

Saat hati dan akal hidup dalam bumi cinta 'jatuh cinta' maka yg menjadi Tuhan pencipta bumi nya adalah Hati dan Nafsu menjadi Nabi,

yang dosa di anggap cinta,
dan cinta punya fatwa : ini cinta bukan dosa karna KITA CINTA berbuatlah semua karna cinta....

Tuhan dengar kami selalu dengar,itu kami percaya ,kami percaya Ya Tuhan..
tapi telinga kami tak menghiraukan,
hati kami tak peduli, dosa buat kami itu urusan nanti...

Cinta itu kadang menjadi dewa penolong bagi yg memilih diZona haram,
cinta akan memberi negosiasi : jangan takut, jangan gelisah cinta tak pernah salah, dosa untuk cinta itu bukti perasaan dan haram demi orang tercinta itu pengorbanan bukan dosa
Cinta adalah Kalamnya orang-orang berzina...

Tuhan Engkau Melihatnya, selalu melihatnya
Tapi mata dan matahati kami sudah dikaki hanya mampu melihat jalanan mana yang mulus dan nikmat untuk dilewati
mendaki nikmat nikmat dipuncak tinggi yang merendahkan iman dan akhlaq-akhlaq sejati..
itu sudah tak kami hirauan karna indra mata kita hanya matakaki yang berfungsi saat bercinta dengan insan dibumi...

Jika nasib kami malang biarkan kami malang di bumi , walau semua harus hilang..
Tapi selamat kan kami diSisi-MU ya Rabbi, kami tak ingin malang di alam keabadian cipta'an-MU..