Kamis, 29 Maret 2012

“Aku Tak Takut Meminta Karna Engkau Maha Kaya”

Yang punya “Uang Banyak” dia pun gelisah karna takut umurnya pendek
segera mati sebelum uang nya habis,,

Yang punya “Istri Cantik, Suami Ganteng ” berjalan pun tak jenak karna mereka takut ada yang menggoda dan hilang,,

Yang punya
“Kedudukan dan Pamor” makan pun tak enak karena mereka kawatir tidak bisa dinikmati dalam waktu lama,,

Dan,
Yang punya “Rumah megah, mobil mewah” pun tidur tak nyenyak ,karena mereka takud saat terjaga dalam tidur akan ada maling yang mengangkatnya!!

Lalu mana diantara semua yang paling enak dan aman ?

Orang yang enak dan aman itu orang yang tidak percaya kalimat ini!

Terimakasih sudah dibaca, sebenarnya saat menulis ini saya juga sedang takud,

Apa kamu tahu aku takud apa?
Aku takud,bagaimana jika suatu saat aku diberi kesempatan menjadi orang-orang seperti di atas :D
betapa sedihnya jika aku gak bisa makan saat suamiku tidak dirumah, kurus lah ane.
Dan bagaimana kalau aku gak bisa tidur jika tidak di atas atap rumah hanya karna takud gentingnya ilang ? :D

mudah2an aku tidak diberi kenikmatan yang menggelisahkan dan juga mengkawatirkan

Cukup Satu Rumah, Satu Mobil, Satu Suami (anak terserah nanti bapaknya) hahaha
Dan Satu Akhir Kematian yang Qusnul Khatimah Menuju Rumah Gusti Agung bersama keluarga tercinta ku
Aminn Ya Rabb..

Reynee dan yang terkasih (semuanya)...

Rabu, 28 Maret 2012

GUSTI,
seperti kapan saja
kami para hamba
tak berada di mana-mana
melainkan di hadapan Mu jua
ini sangat sederhana
tetapi kami sering lupa
sebab mengalahkan musuh-
musuh Mu
yang kecil saja, kami tak
kuasa

GUSTI,
inilah tawanan Mu
tak berani menengadahkan
muka
mripat kami yang terbuka
telah lama menjadi buta
sebab menyia-nyiakan dirinya
dengan hanya menatap hal-
hal maya

GUSTI,
cinta kami kepada Mu tak
terperi
namun itu tak diketahui
oleh diri kami sendiri
maka tolong ajarilah kami
agar sanggup mengajari diri
sendiri
menyebut nama Mu seribu
kali sehari
karena meski hanya sehuruf
saja dari Mu
takkan tertandingi

GUSTI,
kami berkumpul disini
untuk mengukur keterbatasan kami
melontarkan beratus beribu
kata
seperti buih-buih
melayang-layang di udara
diisap kembali oleh Maha
Telinga
sehingga tinggal jiwa kami
termangu
menunggu ishlah dari Mu
agar jadi bening dan tahu
malu

GUSTI,
kami pasrah sepasrah-
pasrahnya
kami telanjang setelanjang-
telanjangnya
kami syukuri apapun
sebab rahasia Mu agung
tak ada apa-apa yang penting,
dalam hidup yang cuma sejenak ini
kecuali berlomba lari
untuk melihat telapak kaki
siapa yang paling dulu menginjak halaman rumah-Mu

GUSTI,
lihatlah,
mulut kami fasih
otak kami secerdik setan
jiwa kami luwes
bersujud bagai para malaikat-Mu
namun saksikan
adakah hidup kami mampu
begitu ?
langkah kami yang mantap
dan dungu
hasil-hasil kerja kami yang
gagah dan semu
arah mata kami yang bingung dan tertipu
akan sanggupkah melunasi
hutang kami
kepada kasih cinta penciptaan-Mu ?

GUSTI,
masa depan kami sendiri kami bakar
namun Engkau betapa amat
sabar
peradaban kami semakin hina
namun betapa Engkau
bijaksana
kelakuan kami semakin nakal
namun kebesaran Mu maha
kekal
nafsu kami semakin rakus
tapi betapa rahmat Mu tak
putus-putus
kemanusiaan kami semakin
dangkal
sehingga Engkau menjadi
terlampau mahal

GUSTI,
kamilah pesakitan
di penjara yang kami bangun sendiri
kamilah narapidana
yang tak berwajah lagi
kaki dan tangan ini kami ikat sendiri
maka hukumlah dan ampuni
kami
dan jangan biarkan terlalu
lama menanti..

:Cak Nun

Senin, 12 Maret 2012

''Kakek ku lupa memberi Judul''

Hari ini aku ingat padamu,
Entah kenapa..

Entah karna aku rindu masa
kecilku yang di masa itu aku
sering mendengar nama mu saat aku dalam ayunan gendongan Nenek ku,

Pak Harto... Ya,itulah nama yang sering aku dengar saat aku bermain lumpur dipematang sawah bersama Kakek ku,,
Aku juga ingat Kakek ku paling
suka memakai kaos berwarna
Kuning yang bergambarkan
Pohon Beringin, bahkan meski
sudah banyak jahitan disana-sini kaos itupun masih slalu dipakai,,
Kakek ku bilang ini Kaos dari Pak Harto..

Sungguh,,
Waktu kecilku aku sering
mendengar tentang nama mu..
Sering melihat mu melintas di
televisi hitam putihku, kau
tersenyum di atas delman
(kendaraan kuno yg ditarik oleh kuda)
dengan melambaikan tangan,
kau tampak begitu bersahaja
dengan senyum khas dan
songkok hitam yang selalu kau kenakan di kepala mu...

Dan lagi-lagi aku mendengar
nama mu disebut,,
Pak Harto... Pak Harto,,

Dulu pula Kakek bilang padaku,Selama 32 tahun foto mu yang terpasang di dinding bambu rumahku,,kurang lebihnya itulah cerita dari kakek ku,
sebelum beliau pergi dan
menutup cerita-cerita tentang
mu saat menjadi Raja Negri ku,

Setelah Kakek ku menghadap
Sang Illah, tak lagi ku dengar
cerita tentangmu,
Aku juga sudah tak sesering dulu melihat mu muncul dilayar teve ku,

sudah jarang lagi ku lihat kau melambaikan tangan di atas
delman dengan senyum dan
songkok hitam mu.
Aku hanya melihat mu ditelevisi yang saat itu sudah dengan gambar berwarna tapi itupun kadang-kadang saja,
Sudah ganti sosok baru yang
sering ku lihat muncul dengan
senyum dan lambaian tangan
yang beda, bukan Pak Harto lagi nama yg ku dengar dari volume teve ataupun Radio ku..

Ayahku juga tak punya banyak
cerita,Tentang orang yang sering muncul diberita setiap paginya itu,,,
Hingga akhirnya aku lihat
kembali senyum dan lambaian
tangan mu, tapi kali ini kau
duduk dikursi besi,,

Kau muncul kembali dengan diiringi suara sumbang tentang PR-PR mu yang keliru,,
Aku ikut benci,
tapi aku juga cinta,
Entah aku benci ataukah aku
cinta,,atau aku diantara
keduanya,, apa aku sedih karna stelah kau tempuh sekian panjang dan berat kelas-kelasmu kau lulus dengan angka merah
Antara cinta dan benci karna
dalam cerita kakek ku dulu,
engkau pengayom negriku tapi dalam cerita orang yang
sekarang engkau korupsi ??

Kenapa tiba-tiba aku marah,,
Kenapa tiba-tiba aku mematikan televisi jika melihatmu muncul
disana,,
Kenapa,, ?

Apa karna dulu aku sering
mendengar kau dipuja-puja
Kakek ku,lantas aku kecewa saat sekarang kau diceritakan lain dari cerita Kakek ku,, ?

Kenapa orang-orang yang dulu memujamu kini banyak yang mencacimu?
Apa mereka benci padamu,,
Apa mereka kecewa, karena kau akhirnya tergelincir dalam keliru selayaknya manusia yang juga terkadang bisa khilaf dan membuat mereka tak lagi sayang padamu..

Dan ditengah ramainya cacian tentangmu aku dengar,
Aku membaca tulisan tentang
seorang yang bijak meski dia tak mengagumi mu,,
Dia bilang,
'' tak ada gading yang tak retak soeHarto,, orang kecewa dan marah padamu itu berasal dari rasa cinta kepadamu namun rasa cinta itu menumbuhkan marah
dan kecewa mana kala orang
yang dibanggakan itu
menyakitinya dan berjalan
keliru,, !''

Semenjak itu aku tak mau peduli tentang ocehan orang tentang Negeri Indah kita ini,
Negeri yang saat kau tinggal kan dalam keadaan 'kolep' bahkan 'anfal', hingga detik inipun masih 'koma' belum bangun dari tidur panjang dan keterpurukan, serta masih diramaikan cerita para Sang 'pahlawan berdasi' yang selalu mengobral janji ketentraman walaupun sebenarnya justru mereka menjadi hama dilumbung padi para petani


Sampai ketemu lagi kita
dihadapan Sang Maha Mengadili,
terimakasih ku padamu atas
sumbangsih mu pada Kakek-
nenek ku dimasa dahulu,

rasa kecewa ini tak lantas membuatku memudarkan
kenangan tentang mu,
Aku akan menyimpan kenangan cerita-cerita kakek ku bagaimana dulu perjuanganmu,
Tak akan ku kikis dengan cerita yang sekarang, karna aku tak layak mencaci mu !!

Semoga Kakek ku bertemu
dengan mu disana agar dia bisa mendengar nasehat darimu yang dulu sering dinyanyikan padaku sebagai penghantar tidurku

Satu kalimat yang hingga diusia ku yang sekarang begitu berat aku tempel kan dalam pribadiku,

''OJO DUMEH''
(jangan mentang-mentang)...
Karna semuanya bisa berbalik
dan berubah kapan saja atas
kehendak-NYA..

Pak Harto,, Pak Harto...